Copy trus paste.. Hehe.

Man,

Gue kangen ngeblog.

Gile aja. Ngerjain Tugas Akhir dari 2 bulan lalu sampe hari ini Tugas Akhir gue masih kayak *KANCUT. Dan Jujur, setiap kali ngerjain tugas akhir , setiap kali dosen pembimbing gue ngomong ”Cepetan di selesain, ini udah hampir selesai lho.. ” gue selalu berpikir tentang orang-orang yang telah memberikan dukungan untuk gue dan tugas akhir ini, dan it makes it all easier. Gue jadi lebih fokus dan tentu saja gue akan ngeluarin 200% untuk yang terbaik! And I will do the best for you guys! Damn.. semua ini bikin perut gue jadi laper (LHO?!)

Oiya, pilpres kemaren gue melanjutkan sajalah. Hehe

Terakhir, sesuatu yang gue copy paste..

(Ctrl + C, Ctrl + V)

Here goes..

****************************************************************

Kita masih sama-sama ingat meski sudah lama berlalu. Pertama kali tatap muka ketika aku mencari mbakyumu tapi ternyata dia tak ada. Di kota kecil itu, tempat kita lahir dan tumbuh, tapi kita belum pernah saling kenal. Di kotamadia kecil yang dulu cuma sembilan kelurahan dalam satu kecamatan itu…

Sampai hari ini kamu masih ingat baju katun gombrongku, rambut sebahuku, motor bebek protolan tanpa rupa itu. Tapi ah, maaf sayang, aku tak ingat apa bajumu saat itu. Seminggu, atau dua minggu setelahnya, karena kita sama-sama tak ingat, aku bertandang lagi ke rumahmu, tanpa tahu bahwa hari itu kamu berulangtahun ke-17, dan malamnya ada perayaan kecil-kecilan. Malam aku tak datang karena tak merasa terundang langsung olehmu, hanya terpesani oleh mbakyumu. Seminggu kemudian aku datang lagi, bulan sudah memasuki Desember. Kita semakin dekat. Lalu tibalah hari khusus tanpa rencana itu tapi masih kita ingat sampai sekarang sebagai hari jadi kita dan semoga nanti anak-anak kita tahu itu — tanggal itu yang kita pilih untuk jadian kita dulu. Hari khusus itu adalah saat kenakalan kecil singgah dan menggoda. Aku menciummu. Kamu tak menolak. Tak pernah didahului pernyataan cinta. Saat itu aku kelas dua SMA. Itulah hari khusus, beberapa minggu setelah ulang tahunmu. Ulang tahun yang tiba hari ini. Dan selalu kita peringati.

Waktu terus berjalan, kadang merambat, kadang berlari, dengan canda, juga pertengkaran, tapi lebih banyak kemesraan dan kemanjaan, juga diselingi kejengkelan dan rajukan, atau saling berdiam diri, semuanya berbalut rindu, dibumbu kencan bokek karena uang saku ngepress.

Waktu tak berhenti. Usia kita bertambah. Kita terus melangkah. Bergandengan. Menyusuri jalan yang tak pernah kita tahu ujungnya, melintasi persimpangan demi persimpangan yang tak semuanya didahului oleh rambu, meniti jembatan yang tak pernah kita ukur kekuatannya.

Upaya kita untuk saling mengenal dan memahami juga belum berhenti, sampai hari ini, sampai kita menjadi dewasa dan terus diselimuti kedewasaan.

Aku bukan pacar yang baik, belum bisa menjadi ayah yang baik meskipun kau berulang kali mengucapkan “akulah” yang terbaik. Untuk pertama kalinya selama kita menjalin kasih sejak remaja hingga dewasa, aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu secara publik. Ya, betul Wuk, itu sesuatu yang belum pernah aku lakukan: memindahkan ranah privat domestik ke ranah publik, mana melalui dunia maya yang terbuka pula. Mengumumkan ulang tahunmu pada teman-teman ku pun seingatku belum pernah. Blogger yang datang ke sini akan membacanya. Mereka teman-teman baruku dan sebagian besar tak kukenal sosoknya.

Aku mengumumkan kepada dunia justru setelah dewasa dan telah lama menjalin dan melembagakan hubungan, bukan saat kita remaja dan mabuk cinta seolah semua hal bisa menjadi nomor dua bahkan nomor 22222222. Ini berbeda dari coretan-coretan pada sudut buku tulis saat kita kangen bertahun lampau, yang kita torehkan saat pelajaran dalam kelas kita masing-masing, padahal sorenya kita pasti ketemu. Juga esoknya, dan esoknya.

Baru ini, ya posting ini, yang bisa aku hadiahkan, selain bingkisan kecil hasil kasak-kusukku dengan dua anak kita selagi kamu mandi. Aku menyayangimu, mencintaimu, mengasihimu sejak dulu, meski aku bukan pacar yang baik, belum bisa menjadi suami yang baik, belum menghadir sebagai ayah yang baik. Terimalah, Wuk. Ciumku untukmu.

*Tulisan ini terdapat dalam blognya paman tyo, Gue baca tulisan ini dari zaman maen Friendster, eh baru inget pas ada beberapa orang yang nulis ini di notes mereka di Facebook. Gue taro sini deh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: